JEPARA, Pelaku industri mebel Kabupaten Jepara didorong untuk memahami prosedur ekspor secara mandiri agar mampu memperluas jangkauan pasar internasional sekaligus mengoptimalkan keuntungan usaha. Dorongan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Prosedur Ekspor bagi Industri Mebel Jepara yang digelar di Sentra Patung Mulyoharjo, Senin (2/11/2026), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Octofest 2026.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara, Dhaula Patta Raya, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali para pengrajin dan pengusaha lokal agar tidak lagi bergantung pada pihak ketiga dalam melakukan pengiriman barang ke luar negeri.
“Dengan memahami prosedur ekspor, pelaku usaha diharapkan bisa memasarkan produknya secara langsung ke luar negeri sehingga memperoleh keuntungan yang lebih optimal,” tegas Dhaula.
Ia mengungkapkan, sepanjang tahun 2026 sebanyak 100 pengusaha telah memegang Kartu Mebel Jepara (KMJ), dan 20 di antaranya berhasil difasilitasi untuk berlaga pada ajang internasional Indonesia International Furniture Expo (IFEX). Menatap tahun 2027, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menargetkan peningkatan jumlah pemegang KMJ dengan membuka kuota tambahan sebanyak 1.500 kartu yang pendaftarannya dibuka gratis hingga akhir Desember 2026.
KMJ sendiri tidak hanya diperuntukkan bagi pemilik usaha, tetapi juga menyasar para karyawan dan pengukir. Pemegang kartu berhak mendapatkan berbagai fasilitas prioritas, mulai dari pelatihan teknis, akses bantuan pendidikan (KIP/PIP) bagi keluarga kurang mampu desil 1–5, hingga perlindungan jaminan sosial melalui BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Pada kesempatan yang sama, Konsultan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, RM Satya Brahmantya, menegaskan bahwa peluang mebel Jepara di pasar global masih terbuka lebar. Namun, ia mengingatkan agar para pelaku usaha tidak bertarung di ranah produksi massal melawan negara seperti China. Sebaliknya, keunggulan utama Jepara terletak pada seni ukir buatan tangan (handmade) serta nilai cerita budaya (storytelling) yang tidak bisa digantikan oleh mesin CNC.
“Yang tidak mungkin dilawan adalah skill ukir dan karya seni. Bahkan, ada pembeli dari Kanada yang menolak produk hasil CNC karena lebih menghargai karya buatan tangan manusia. Produk yang memiliki cerita akan mempunyai nilai lebih di mata pembeli,” pungkas Satya.
