JEPARA, Seni ukir dan industri furnitur Kabupaten Jepara didorong untuk terus bertransformasi melalui inovasi desain agar mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan identitas budaya lokal. Langkah strategis ini mengemuka dalam Seminar Nasional REKANUSA 2026 bertajuk “Seni Ukir Jepara: Inspirasi untuk Mendesain Furniture Pasar Global (Dari Rasa ke Logika)” yang digelar di Auditorium Lantai 4 Gedung Perpustakaan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, Kamis (29/10/2026).
Acara yang dihadiri lebih dari 150 peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, pelaku industri, mahasiswa, hingga generasi muda ini dibuka langsung oleh Rektor I UNISNU Jepara, Prof. Dr. H. Abdul Djamil. Sementara itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, hadir sebagai pembicara kunci melalui perwakilan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Tengah, Riris Purbasari.
Dalam sambutan Menteri Kebudayaan, ditekankan bahwa penguatan pemahaman warisan budaya sangat diperlukan agar identitas bangsa tetap memiliki daya saing internasional di tengah arus globalisasi. Seminar ini pun membedah tiga perspektif utama: kebijakan, pelestarian budaya, dan inovasi desain.
Dari sisi kebijakan, Ketua KADIN Jepara sekaligus Anggota DPRD Jawa Tengah, H. Andang Wahyu Triyanto, menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam menciptakan inovasi dan nilai tambah bagi industri mebel ukir. Sementara dari sudut pandang pelestarian, CEO Agra Guratama Raya Group, Dr. H. Muhammad Jamhari, memaparkan materi “Menolak Punah” yang mengajak eksplorasi seni ukir tidak hanya pada kayu, tetapi juga media batu dan logam.
Adapun perspektif desain dipaparkan oleh Pembina Yayasan REKANUSA sekaligus akademisi Universitas Tarumanagara, Dr. Drs. H. Eddy Supriyatna Marizar. Lewat materi “Mengolah Getar-Getar Jiwa”, ia menjelaskan bahwa pendekatan desain dengan konsep Logika Rasa serta pola pikir terbalik (POPI-TER) menjadi jembatan antara nilai estetika seni kriya dan kebutuhan industri furnitur global.
Kegiatan ini turut dimeriahkan pertunjukan tari budaya, musik lokal, pembacaan puisi, serta pameran produk furnitur karya dosen dan mahasiswa UNISNU.
Pendiri Yayasan REKANUSA (Rainha Eka Nusantara), Eka Fitri Suryani, bersama Ketua Yayasan, Dr. Maitri Widya Mutiara, S.Ds., M.M., menegaskan bahwa seminar ini menjadi titik awal kolaborasi lintas sektor. Melalui perpaduan tradisi, kreativitas, dan kebutuhan pasar, seni ukir Jepara diharapkan tidak sekadar bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menguasai pasar furnitur kontemporer internasional.
