Pekerja Sosial RPSDM Waluyotomo, Dini, menjelaskan bahwa pembinaan batik ciprat ini mulai digarap secara masif sejak 2022. Program yang awalnya dirancang sebagai bimbingan keterampilan rutin tersebut berkembang pesat setelah karya para penerima manfaat mendapat respons positif dari masyarakat luas.
“Awalnya sebatas bimbingan keterampilan biasa. Namun, saat pertama kali diikutsertakan dalam pameran, antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk membeli dan memesan,” ujar Dini di sela-sela kunjungan delegasi diplomatik.
Perkembangan usaha ini mendapat sokongan hibah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah melalui program pendanaan Pemerintah Queensland, Australia. Pemasaran produk kemudian diperluas memanfaatkan media sosial dan marketplace.
Dari total 100 penerima manfaat di RPSDM Waluyotomo, sekitar 10 orang telah dinilai mandiri dalam menguasai alur produksi dari tahap pembuatan hingga pengemasan. Dalam kondisi optimal, kapasitas produksi mampu mencapai 10 hingga 20 kain per minggu.
Dini menambahkan, seluruh hasil penjualan batik ciprat dialokasikan sebagai tabungan pribadi bagi para penerima manfaat. Rekening tabungan ini disiapkan sebagai bekal kemandirian finansial dan modal keterampilan saat mereka kembali ke tengah keluarga.
“Saat kembali ke masyarakat, mereka setidaknya mengantongi keterampilan praktis dan tabungan untuk modal usaha mandiri,” jelasnya.
Meski begitu, proses produksi bukannya tanpa hambatan. Kendala utama terletak pada stabilitas kondisi emosional peserta serta ketergantungan proses pengeringan pada cuaca. Saat musim hujan tiba, kegiatan membatik terpaksa dihentikan sementara karena proses pengeringan masih mengandalkan paparan sinar matahari langsung.
Salah seorang penerima manfaat, Andi (42), mengaku telah menekuni seni batik ciprat sejak awal program bergulir. Dengan pendampingan telaten dari instruktur panti, ia terus mengasah keterampilannya.
“Kami didampingi secara intensif oleh petugas agar menghasilkan karya batik ciprat berstandar kualitas tinggi,” tutur Andi.
Proses pembuatan dimulai dengan membentangkan kain putih menggunakan peniti, karet, dan kayu untuk menjaga kerataan permukaan. Selanjutnya, lelehan malam dicipratkan untuk membentuk corak artistik sesuai permintaan pemesan. Pengerjaan satu lembar kain memakan waktu hingga satu minggu, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan ukuran kain.
