TikTok memperkenalkan Pusat Keamanan Brand (TikTok Brand Safety Center) terbaru, disertai Buku Panduan Perlindungan Brand (Brand Protection Playbook) dan Panduan Keamanan AI untuk Pengiklan (AI Safety Essentials). Inisiatif ini ditujukan untuk membantu brand menjaga reputasi, membangun kepercayaan audiens, serta mendorong penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab dalam periklanan.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam acara TikTok APAC Responsible Media Forum 2026 di Singapura. Forum ini mempertemukan 30 perwakilan brand, agensi, dan mitra untuk membahas perkembangan keamanan brand serta penerapan praktik periklanan yang bertanggung jawab.
Dalam riset bersama Ipsos yang mencakup 12 pasar, pengguna yang melihat konten bersponsor dari brand di TikTok menilai brand tersebut 30 persen lebih autentik dan 11 persen lebih tepercaya dibandingkan pengguna yang tidak terpapar konten tersebut.
“Pengguna datang ke TikTok untuk menemukan pengalaman yang autentik. Dengan menjaga pengalaman tersebut, kami membangun lingkungan yang memberi brand kepercayaan diri untuk terhubung dengan audiens,” ujar Francis Stones, Head of Global Responsible Media & Brand Safety, Global Business Solutions TikTok.
Menurut Stones, TikTok berupaya menjaga kepercayaan sekaligus menyediakan perangkat dan perlindungan agar brand dapat berpartisipasi dalam percakapan budaya dengan lebih percaya diri.
TikTok Perkuat Moderasi Konten dan Pemeriksaan Fakta
TikTok menyatakan menggunakan sistem otomatis untuk mendeteksi potensi pelanggaran terhadap Panduan Komunitas. Proses tersebut didukung moderator manusia terlatih yang memberikan penilaian tambahan ketika konteks konten memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Untuk konten yang memuat klaim berpotensi menyesatkan, TikTok juga bekerja sama dengan lebih dari 20 organisasi pemeriksa fakta independen yang terakreditasi oleh International Fact-Checking Network (IFCN). Menurut perusahaan, jaringan pemeriksaan tersebut mencakup 60 bahasa dan 130 pasar.
Berdasarkan laporan penegakan Panduan Komunitas TikTok untuk periode April–Juni 2026, perusahaan menghapus lebih dari 30 juta video di 10 pasar Asia Pasifik karena melanggar ketentuan platform. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,3 persen dari seluruh video yang dipublikasikan di kawasan tersebut.
TikTok melaporkan bahwa 99,5 persen video yang dihapus di kawasan tersebut ditindak secara proaktif, sedangkan 91 persen dihapus dalam waktu 24 jam.
Di Indonesia, jumlah video yang dihapus pada periode yang sama mencapai sekitar 12,2 juta. TikTok menyebut jumlah itu setara dengan sekitar 0,3 persen dari seluruh video yang dipublikasikan di Indonesia. Sebanyak 99,5 persen di antaranya dihapus secara proaktif dan 91,3 persen dihapus dalam waktu 24 jam.
Secara global, TikTok melaporkan bahwa 97,4 persen penghapusan video selama kuartal tersebut dilakukan melalui sistem otomatis, termasuk teknologi moderasi berbasis AI.
Perusahaan menyatakan penggunaan teknologi tersebut membantu mendeteksi dan menangani konten yang melanggar secara lebih konsisten serta mengurangi peluang konten bermasalah dilihat pengguna.
Laporan dapat dibaca melalui halaman transparansi penegakan Panduan Komunitas TikTok.
Tiga Lapisan Perlindungan untuk Brand
TikTok menjelaskan bahwa keamanan brand tidak hanya berkaitan dengan penempatan iklan, tetapi juga mencakup pengelolaan reputasi, transparansi konten, dan pemantauan potensi risiko.
Pendekatan tersebut terdiri atas tiga lapisan utama.
Pertama, ruang iklan yang aman. TikTok menetapkan standar keamanan dasar untuk iklan dan menyediakan sejumlah kontrol yang dapat disesuaikan oleh brand, seperti Filter Inventaris (Inventory Filter), Pengecualian Kategori (Category Exclusion), Sensitivitas Industri (Vertical Sensitivity), dan Daftar Pengecualian (Exclusion List).
Brand juga dapat memanfaatkan layanan verifikasi dari mitra independen, antara lain DoubleVerify, Integral Ad Science, dan Zefr.
Kedua, hubungan yang autentik. Label konten bermerek (branded content) membantu audiens mengetahui ketika kreator membuat konten melalui kerja sama dengan suatu brand.
Ketiga, pengungkapan yang jelas. Label konten buatan AI membantu pengguna mengenali konten yang dibuat atau mengalami perubahan signifikan menggunakan kecerdasan buatan.
TikTok menyatakan brand dapat mengombinasikan berbagai kontrol tersebut sesuai kebutuhan, bukan hanya mengandalkan satu pengaturan untuk melindungi reputasi dan penayangan iklan.
Informasi lebih lanjut tersedia dalam Buku Panduan Perlindungan Brand TikTok.
Perangkat Baru untuk Memantau Reputasi dan Melindungi Produk
Selain pengaturan keamanan iklan, TikTok memperkenalkan atau menyoroti sejumlah perangkat yang membantu brand memahami percakapan publik, mengidentifikasi risiko, dan menangani dugaan pelanggaran kekayaan intelektual.
Salah satunya adalah TikTok Market Scope Brand Perception, perangkat di Business Center yang memberikan gambaran mengenai volume percakapan tentang suatu brand, sentimen audiens, serta topik yang banyak dibahas.
Untuk persoalan kekayaan intelektual, TikTok menyediakan kanal pelaporan dugaan pelanggaran hak cipta dan merek dagang.
Sementara itu, Intellectual Property Protection Center (IPPC) TikTok Shop memungkinkan brand dan pemegang hak untuk melaporkan daftar produk yang diduga melanggar hak cipta atau merek dagang. Pelanggaran yang dikonfirmasi dapat berujung pada penghapusan daftar produk dan pemberian peringatan kepada penjual.
TikTok juga menyediakan TikTok Real, yang membantu brand di TikTok Shop memantau otorisasi penjual, menerima pemberitahuan mengenai daftar produk mencurigakan, dan menindaklanjuti produk palsu yang telah dikonfirmasi.
Rangkaian perangkat tersebut diarahkan untuk membantu brand melakukan pemantauan dan penanganan risiko secara lebih dini.
TikTok Dorong Penggunaan AI yang Transparan dalam Periklanan
Di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam produksi konten, TikTok menekankan pentingnya transparansi agar teknologi tersebut dapat mendukung kreativitas tanpa mengaburkan keaslian informasi.
Melalui kerangka Responsible AI Framework, TikTok menyebut memiliki lima lapisan pendekatan untuk mendorong penggunaan AI dalam proses kreatif secara bertanggung jawab, transparan, dan tepercaya.
TikTok juga menyampaikan bahwa platformnya menggunakan Kredensial Konten berbasis standar C2PA, alat pelabelan kreator, dan teknologi tanda air tak terlihat (invisible watermarking) untuk membantu mengidentifikasi konten yang dihasilkan atau mengalami perubahan signifikan melalui AI.
Menurut data yang disampaikan perusahaan, lebih dari 3 miliar video telah diberi label sebagai konten buatan AI atau AIGC (AI-Generated Content) melalui kombinasi teknologi dan perangkat pelabelan tersebut.
Informasi mengenai pendekatan TikTok terhadap keamanan AI untuk pengiklan dapat dibaca melalui AI Safety Essentials for Advertisers on TikTok.
TikTok juga menyediakan materi pembelajaran mengenai keamanan brand melalui TikTok Academy.
Membangun Kepercayaan di Tengah Perkembangan Iklan Digital
Peluncuran perangkat keamanan brand dan panduan AI tersebut menunjukkan perhatian TikTok terhadap kebutuhan pengiklan akan lingkungan periklanan yang lebih aman dan transparan.
Bagi brand, perlindungan reputasi tidak hanya bergantung pada tempat iklan ditayangkan, tetapi juga pada transparansi kerja sama dengan kreator, kejelasan penggunaan AI, serta kemampuan mendeteksi dan menangani risiko terhadap merek.
Meski demikian, efektivitas perlindungan tetap bergantung pada penerapan kebijakan, ketepatan moderasi, dan konsistensi penanganan pelanggaran. Informasi mengenai capaian moderasi dan hasil riset yang disebutkan dalam artikel ini merujuk pada data yang dipublikasikan atau disampaikan TikTok bersama mitranya.
Sumber: TikTok Business, TikTok Safety Transparency Report, dan riset TikTok–Ipsos, Re-Energising the Mid-Funnel (2026). Riset dilakukan di 12 pasar dengan desain kelompok uji dan kontrol serta pengumpulan data pada November 2025–Februari 2026. Angka peningkatan persepsi merupakan perbandingan relatif antara kelompok yang terpapar konten bermerek di TikTok dan kelompok kontrol yang tidak terpapar.

