SMPN 2 Kembang Kenalkan Seni Ukir Jepara kepada Generasi Muda

Meta description: SMPN 2 Kembang mengenalkan seni ukir Jepara kepada murid melalui kokurikuler selama enam hari, mulai praktik mengukir hingga pameran karya.

JEPARA, liputankabarkota.com – Seni ukir Jepara tidak hanya menjadi bagian dari sejarah dan identitas budaya daerah, tetapi juga terus dikenalkan kepada generasi muda melalui lingkungan pendidikan. Upaya tersebut dilakukan SMP Negeri 2 Kembang melalui kegiatan Kokurikuler Seni Ukir yang berlangsung selama enam hari, 28 September hingga 3 Oktober 2026.

Mengusung tema “Belajar, Berkarya, dan Melestarikan Ukir Jepara”, kegiatan tersebut melibatkan murid kelas VII, VIII, dan IX. Rangkaian kegiatan mencakup pengenalan seni ukir, pembelajaran motif, praktik mengukir hingga pameran karya.

Kepala SMP Negeri 2 Kembang, Agus Prianto, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut tetap dilaksanakan meskipun sekolah menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.

“Keterbatasan justru menjadi tantangan bagi sekolah dan murid untuk memanfaatkan sumber daya yang ada secara kreatif. Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, kegiatan tetap dapat terlaksana dan memberikan pengalaman nyata kepada murid untuk mengenal, mempelajari, mencintai, dan melestarikan seni ukir Jepara,” ujar Agus seusai penutupan kegiatan.

Menurut Agus, pengenalan seni ukir kepada generasi muda penting dilakukan di tengah perkembangan teknologi dan kehidupan digital. Ia mengatakan penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap budaya lokal.

“Murid boleh hidup di zaman digital, tetapi jangan sampai kehilangan identitas lokalnya. Kegiatan ini menjadi ikhtiar kecil untuk menjaga warisan besar agar ukir Jepara tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi terus menjadi karya dan kebanggaan generasi masa depan,” katanya.

Murid Belajar Motif dan Teknik Ukir

Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan pengertian, sejarah, ciri khas, motif, serta contoh karya seni ukir Jepara selama tiga hari.

Materi diberikan kepada murid sesuai tingkat kelas dan keterampilan masing-masing. Selain praktik menggunakan pensil, pahat, dan palu, kegiatan juga diarahkan untuk mengenalkan seni ukir sebagai bagian dari identitas budaya Jepara.

Murid kelas VII mempelajari garis, ornamen geometris, dan ornamen naturalis. Sementara kelas VIII mengembangkan motif melalui stilasi daun dan bunga serta mengenal sejumlah motif khas Jepara, termasuk relung dan jumbai.

Adapun murid kelas IX mendapatkan materi yang lebih teknis, mulai dari pembuatan pola, memahat garis tepi, membentuk volume dan relief hingga menghasilkan karya ukir pada papan kayu.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk melatih kreativitas, ketelitian, ketekunan, dan kerja sama antarmurid.

Karya Murid Dipamerkan di Ruang Kelas

Setelah praktik, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan pameran. Pada Jumat (2/10/2026), murid menata ruang kelas dan menyiapkan dekorasi untuk pameran.

Setiap karya dilengkapi dengan informasi berupa judul, nama kelompok, teknik dan media yang digunakan, serta deskripsi karya.

Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu (3/10/2026) melalui Pameran dan Apresiasi Karya yang digelar di ruang kelas masing-masing.

Melalui kegiatan tersebut, murid tidak hanya belajar membuat karya seni ukir, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam menata ruang pamer, menyampaikan informasi mengenai karya, serta memberikan apresiasi terhadap karya sendiri dan karya teman.

Salah seorang murid kelas IX C, Fera, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru baginya.

“Kokurikuler seni ukir sangat menyenangkan walaupun cukup sulit ketika mengukir kayunya. Tapi, saya bisa belajar tentang teknik seni ukir,” ujar Fera.

Seni Ukir sebagai Pembelajaran Berbasis Budaya

Koordinator kegiatan, Sukma Dwi Febriyanti, S.Pd., mengatakan kokurikuler seni ukir dirancang tidak hanya sebagai kegiatan keterampilan, tetapi juga sebagai bagian dari pembelajaran berbasis budaya.

“Ketika murid belajar menggambar motif ukir, mereka belajar mengenali identitas daerah Jepara. Ketika memegang pahat, mereka belajar ketelitian dan kesabaran. Ketika karya dipamerkan, mereka belajar menghargai karya sendiri sekaligus karya orang lain,” katanya.

Agus Prianto menambahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya sekolah mengenalkan seni ukir Jepara kepada murid melalui pengalaman langsung.

Menurut dia, pelestarian seni ukir tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan keberadaan karya, tetapi juga memastikan adanya generasi yang mengenal dan memiliki kemauan untuk mempelajarinya.

“Melestarikan seni ukir bukan sekadar menjaga agar ukiran tetap ada, tetapi memastikan selalu ada generasi yang mau belajar, berkarya, dan bersedia ambil bagian dalam pelestarian warisan budaya bangsa,” pungkasnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url