Sejarah Kabupaten Jepara Jejak Kalingga, Demak hingga Ratu Kalinyamat

Kabupaten Jepara memiliki perjalanan sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perdagangan, kerajaan, perjuangan melawan penjajahan, serta kebudayaan yang berkembang di wilayah pesisir utara Jawa.

Jauh sebelum Jepara berkembang menjadi wilayah kabupaten seperti sekarang, kawasan ini telah dihuni oleh masyarakat yang diyakini memiliki hubungan dengan migrasi penduduk dari wilayah Yunnan Selatan. Pada masa awal tersebut, wilayah Jepara masih memiliki kondisi geografis yang berbeda dengan sekarang dan dipisahkan oleh Selat Juwana.

Asal-usul Nama Jepara

Nama Jepara diyakini memiliki kaitan dengan sejumlah penyebutan lama, seperti Ujung Para, Ujung Mara, dan Jumpara, yang kemudian berkembang menjadi Jepara.

Nama tersebut dikaitkan dengan keberadaan Jepara sebagai kawasan pemukiman dan aktivitas perdagangan. Letaknya yang berada di pesisir utara Jawa membuat wilayah ini berkembang sebagai salah satu tempat persinggahan dan perdagangan antardaerah.

Dalam catatan sejarah Tiongkok yang dikenal sebagai Sejarah Baru Dinasti Tang atau Xin Tang Shu, disebutkan adanya kunjungan seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pada abad ke-7 Masehi ke wilayah yang dikenal sebagai Holing atau Kaling.

Wilayah Kalingga tersebut selama ini sering dikaitkan dengan kawasan di sekitar Keling dan Jepara. Kerajaan tersebut dikenal dengan sosok penguasa perempuan bernama Ratu Shima, yang dalam berbagai sumber sejarah digambarkan sebagai pemimpin yang tegas dalam menegakkan aturan.

Jepara pada Masa Demak

Jepara semakin dikenal sebagai kawasan perdagangan pada sekitar abad ke-15. Dalam catatan Tome Pires melalui karya Suma Oriental, Jepara disebut sebagai bandar perdagangan yang saat itu masih berukuran relatif kecil.

Wilayah Jepara berada dalam pengaruh Kesultanan Demak dan dipimpin oleh Aryo Timur. Kepemimpinannya kemudian diteruskan oleh putranya, Pati Unus, yang berupaya mengembangkan Jepara sebagai kota niaga.

Pati Unus juga dikenal karena perlawanannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa tersebut, Malaka merupakan salah satu pusat penting jalur perdagangan di kawasan Nusantara.

Setelah Pati Unus, kepemimpinan Jepara berlanjut kepada Fatahillah atau Faletehan. Perkembangan Jepara kemudian semakin penting ketika wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Ratu Retno Kencono bersama suaminya, Pangeran Hadirin.

Ratu Kalinyamat dan Masa Kejayaan Jepara

Salah satu periode penting dalam sejarah Jepara adalah masa pemerintahan Ratu Kalinyamat.

Setelah berbagai konflik politik di Kesultanan Demak dan wafatnya Pangeran Hadirin, Ratu Retno Kencono meninggalkan kehidupan istana dan melakukan pertapaan di Bukit Danaraja.

Setelah Aryo Penangsang berhasil dikalahkan, Ratu Retno Kencono kemudian kembali dan memimpin Jepara. Ia dikenal dengan gelar Nimas Ratu Kalinyamat.

Di bawah kepemimpinannya, Jepara berkembang menjadi salah satu bandar perdagangan penting di Pulau Jawa. Aktivitas perdagangan semakin ramai dan Jepara juga berkembang sebagai pangkalan kekuatan laut.

Ratu Kalinyamat dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki semangat kuat dalam menghadapi Portugis. Jepara mengirimkan armada militer untuk membantu perjuangan melawan Portugis di Malaka pada 1551 dan kembali melakukan ekspedisi pada 1574.

Ekspedisi tersebut menunjukkan bahwa Jepara pada abad ke-16 telah memiliki kekuatan maritim yang cukup besar. Meskipun serangan terhadap Portugis tidak berhasil mengusir kekuatan Portugis dari Malaka, perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan kerajaan-kerajaan Nusantara terhadap kekuatan kolonial.

Keberanian Ratu Kalinyamat bahkan mendapat perhatian dari Portugis. Ia disebut dengan julukan “Rainha de Jepara, Senhora de Rica”, yang menggambarkan Jepara sebagai kerajaan yang dipimpin seorang perempuan yang kuat dan memiliki kekayaan.

Warisan Ratu Kalinyamat

Selain dikenal karena kekuatan politik dan militernya, masa pemerintahan Ratu Kalinyamat juga memiliki kaitan erat dengan perkembangan seni dan budaya Jepara.

Salah satu warisan budaya yang terus berkembang hingga sekarang adalah seni ukir Jepara. Seni ukir kemudian menjadi salah satu identitas penting daerah sekaligus bagian dari perekonomian masyarakat Jepara.

Perpaduan berbagai pengaruh budaya turut membentuk karakter seni ukir Jepara yang berkembang dari generasi ke generasi.

Ratu Kalinyamat diperkirakan wafat pada 1579 dan dimakamkan di Desa Mantingan, Jepara, di kompleks makam yang juga berkaitan dengan Pangeran Hadirin.

Hari Jadi Kabupaten Jepara

Perjalanan panjang sejarah Jepara kemudian menjadi bagian dari identitas masyarakat hingga saat ini.

Tanggal 10 April 1549 ditetapkan sebagai Hari Jadi Jepara, yang dikaitkan dengan momentum penobatan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara.

Penetapan tersebut juga memiliki makna filosofis melalui Candra Sengkala “Trus Karya Tataning Bumi”, yang dimaknai sebagai semangat untuk terus bekerja keras membangun daerah.

Sejarah Jepara tidak hanya menjadi catatan tentang kerajaan dan perjuangan masa lalu. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus diwariskan melalui budaya, seni, tradisi, perdagangan, serta berbagai potensi daerah.

Jepara hari ini berkembang sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya, mulai dari peninggalan masa kerajaan, tradisi masyarakat, seni ukir, hingga berbagai destinasi wisata sejarah yang menjadi bagian dari kekayaan daerah.

Sumber: Bapenda Provinsi Jawa Tengah, UPPD Kabupaten Jepara, Sejarah Kabupaten Jepara.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url