Jejak Pahat di Kota Ukir Menjaga Warisan Seni Jepara Tetap Hidup
JEPARA, liputankabarkota.com - Suara pahat yang berulang kali menyentuh permukaan kayu mungkin terdengar sederhana. Namun di Jepara, suara tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah tradisi yang telah melekat dengan kehidupan masyarakat.
Di tangan seorang pengukir, sebongkah kayu bukan sekadar bahan. Dengan ketelitian, pengalaman, dan kesabaran, permukaannya perlahan dibentuk menjadi motif daun, bunga, sulur, fauna, maupun berbagai ornamen yang memiliki karakter khas.
Tradisi itulah yang kemudian membuat Jepara dikenal luas sebagai Kota Ukir.
Seni Ukir Jepara bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 186/M/2015. Dalam database resmi Warisan Budaya Kemdikbud, Ukir Jepara tercatat dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Dari Kayu Menjadi Karya
Keindahan ukiran Jepara tidak hanya terletak pada hasil akhirnya. Proses pembuatannya membutuhkan keterampilan yang tidak diperoleh dalam waktu singkat.
Kayu jati merupakan salah satu material yang dikenal digunakan dalam seni ukir Jepara. Karakter kayu yang kuat memungkinkan perajin mengerjakan detail ukiran dengan tingkat kerumitan tertentu.
Database Warisan Budaya Kemdikbud menyebut Ukir Jepara memiliki karakter tatahan yang halus serta menggunakan beragam teknik, termasuk ukiran tinggi atau relief dan ukiran rendah sebagai hiasan permukaan. Motifnya antara lain mengambil bentuk flora, fauna, geometris, dan motif bernuansa Islam.
Di balik setiap detail tersebut terdapat proses panjang. Seorang pengukir harus mampu membaca karakter bahan, menentukan pola, membuat bentuk dasar, kemudian mengerjakan detail secara bertahap.
Kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan bentuk karya.
Karena itu, seni ukir bukan hanya persoalan kemampuan menggunakan pahat. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai bahan, teknik, komposisi, motif, serta pengalaman yang terbentuk melalui proses panjang.
Ukir Bukan Sekadar Produk Mebel
Dalam perkembangannya, nama Jepara memang sangat erat dengan industri mebel dan kerajinan. Namun seni ukir memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar ornamen pada sebuah produk.
Pameran TATAH 2026 yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia menjadi salah satu upaya memperkenalkan perspektif tersebut kepada publik.
Pemerintah Kabupaten Jepara bersama sejumlah pihak mengangkat seni ukir melalui pendekatan sejarah, riset, budaya, dan seni. Pameran tersebut mengusung tema “Suluk–Sulur–Jepara” dan dirancang untuk memperlihatkan ukiran sebagai praktik pengetahuan serta bagian dari identitas masyarakat Jepara.
Pameran tersebut berlangsung hingga 2 Agustus 2026 setelah diperpanjang dari jadwal sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Jepara mencatat total 73.104 kunjungan selama penyelenggaraan TATAH 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa karya ukir Jepara tidak hanya memiliki ruang di pasar mebel, tetapi juga dapat diperkenalkan melalui ruang seni, budaya, edukasi, dan pariwisata.
Tantangan Regenerasi Pengukir
Di balik kekuatan tradisinya, seni ukir Jepara juga menghadapi persoalan regenerasi.
Pemerintah Kabupaten Jepara pada penyelenggaraan TATAH 2026 menyoroti menurunnya minat sebagian generasi muda untuk menekuni seni ukir murni di tengah berkembangnya industri mebel massal. Regenerasi kemudian menjadi salah satu perhatian dalam upaya menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.
Upaya pengembangan juga dilakukan melalui pelatihan inovasi produk dengan ornamen ukir serta kegiatan yang menyasar perajin muda. Program tersebut diarahkan untuk memperbarui teknik, mengembangkan desain, dan menjaga keberlanjutan keterampilan ukir di Jepara.
Regenerasi menjadi penting karena sebuah tradisi tidak cukup hanya disimpan dalam bentuk benda.
Pengetahuan mengenai bagaimana memilih kayu, membuat pola, menggunakan pahat, membentuk detail, hingga memahami karakter sebuah motif juga harus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika Tradisi Bertemu Kreativitas Baru
Perubahan zaman tidak selalu berarti tradisi harus ditinggalkan.
Sebaliknya, seni ukir dapat berkembang melalui inovasi desain dan pemanfaatan teknologi. Produk dengan sentuhan ukir dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar masa kini tanpa menghilangkan karakter khas Jepara.
Pendekatan tersebut juga terlihat dalam berbagai upaya pelatihan dan pengembangan produk yang dilakukan di Jepara. Pemerintah daerah mendorong inovasi agar keterampilan ukir tetap memiliki ruang dalam perkembangan industri kreatif.
Dengan demikian, generasi muda tidak harus melihat seni ukir sebagai sesuatu yang hanya berasal dari masa lalu.
Ukir dapat menjadi ruang untuk menciptakan desain baru, mengembangkan produk kreatif, membangun usaha, sekaligus memperkenalkan identitas Jepara melalui platform digital.
Dari Jepara hingga Sarajevo
Perjalanan seni ukir Jepara juga dapat ditemukan jauh dari daerah asalnya.
Pada September 2026, pengukir Jepara mendapat kesempatan mengerjakan restorasi bagian ukiran Masjid Istiklal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.
Enam pilar berukir di masjid tersebut mengalami kerusakan dan direncanakan diganti. Selain pilar, pekerjaan juga mencakup bagian tangga serta hiasan dinding. Tiga pengukir Jepara dijadwalkan berangkat ke Sarajevo pada 13 Oktober 2026 untuk mengerjakan restorasi tersebut.
Menurut laporan Pemerintah Kabupaten Jepara, kesempatan tersebut bermula dari perjalanan tim ke Bosnia yang berkaitan dengan upaya pengajuan ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda UNESCO.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa keterampilan pengukir Jepara masih memiliki ruang dalam proyek budaya di luar negeri.
Bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana keterampilan yang diwariskan di Jepara dapat menjadi bagian dari hubungan budaya lintas negara.
Menjaga Identitas Kota Ukir
Pada akhirnya, menjaga seni ukir Jepara bukan hanya tanggung jawab pengukir.
Pemerintah, pelaku usaha, sekolah, komunitas, keluarga, generasi muda, hingga masyarakat secara luas memiliki ruang untuk ikut menjaga keberlangsungannya.
Seni ukir dapat dikenalkan kepada anak-anak melalui pendidikan dan kegiatan kreatif. Para perajin dapat memperoleh ruang untuk memperkenalkan karya. Pelaku usaha dapat mengembangkan produk baru. Sementara generasi muda dapat mengambil peran melalui desain, fotografi, pemasaran digital, hingga pengembangan industri kreatif.
Dengan cara tersebut, pelestarian tidak berhenti pada mempertahankan bentuk lama, tetapi juga memberi kesempatan kepada tradisi untuk tumbuh.
Karena pada akhirnya, ukir Jepara bukan sekadar gambar yang ditatah pada permukaan kayu.
Di dalam setiap guratan pahat terdapat keterampilan, ketekunan, pengetahuan, dan cerita tentang masyarakat yang menjadikannya bagian dari kehidupan.
Selama pengetahuan itu terus diwariskan dan para pengukir masih memiliki ruang untuk berkarya, suara pahat di Jepara akan terus menjadi bagian dari identitas Kota Ukir.
Jepara mengukir kayu.
Tetapi melalui ukiran itu pula, Jepara sedang mengukir jejak budayanya sendiri.
Sumber
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI — Database Warisan Budaya Takbenda: “Ukir Jepara”, SK Penetapan Nomor 186/M/2015.
- Pemerintah Kabupaten Jepara — Kabar Jepara, “Gaungkan Kejayaan Seni Ukir Jepara, Pemkab Jepara Dukung Pameran TATAH 2026”, 7 April 2026.
- Pemerintah Kabupaten Jepara — Kabar Jepara, “Pameran TATAH 2026 Berakhir, Perjalanan Merawat Seni Ukir Jepara Terus Berlanjut”, 3 Agustus 2026.
- Pemerintah Kabupaten Jepara — Kabar Jepara, “Pameran TATAH 2026 Digelar di Museum Nasional Indonesia, Tegaskan Seni Ukir Jepara Berbasis Sejarah”, 31 Januari 2026.
- Pemerintah Kabupaten Jepara — Kabar Jepara, “Buka Pameran TATAH, Menteri Kebudayaan Ajak Generasi Muda Lestarikan Ukir Jepara”, 29 April 2026.
- Pemerintah Kabupaten Jepara — Kabar Jepara, “Restorasi Masjid Istiklal Sarajevo Berawal dari Perjalanan Budaya Pengukir Jepara”, 29 September 2026.
- Pemerintah Kabupaten Jepara — Kabar Jepara, “Enam Pilar Masjid Istiklal Sarajevo Rusak, Pengukir Jepara Siapkan Penggantian”, 29 September 2026.
- Kartini FM Diskominfo Jepara, “Bupati Jepara Serahkan Kartu Mebel, Targetkan Ukiran Tembus Pasar Global dan Sejahterakan Para Pengukir”, 22 Juni 2026.