Generasi Z tumbuh bersama internet, media sosial, dan ponsel pintar. Kebiasaan tersebut ikut membentuk cara mereka mencari informasi, membandingkan produk, hingga mengambil keputusan pembelian. Bagi pelaku usaha, perubahan ini menghadirkan tantangan baru: konsumen semakin mudah menemukan alternatif ketika layanan yang mereka terima tidak sesuai harapan.
Kemudahan, kecepatan, dan transparansi menjadi aspek penting dalam pengalaman bertransaksi. Harga yang tidak jelas, informasi produk yang minim, serta respons penjual yang lambat dapat menimbulkan keraguan calon pembeli. Dalam persaingan digital, pelaku usaha tidak cukup hanya menawarkan produk berkualitas, tetapi juga perlu memberikan pengalaman transaksi yang meyakinkan.
![]() |
| Ilustrasi tren belanja online Gen Z yang makin selektif dan menuntut transparansi total, baik dari segi harga, spesifikasi produk, hingga kejelasan pengiriman. (Dok. Liputan Kabar Kota) |
Riset Menunjukkan Konsumen Semakin Terbiasa Berbelanja Digital
Perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan ekonomi digital Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai bruto transaksi (gross merchandise value/GMV) sektor e-commerce Indonesia mencapai US$65 miliar pada 2024, meningkat sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan digital di Indonesia. Namun, pertumbuhan pasar tidak otomatis membuktikan bahwa semua konsumen, termasuk Gen Z, memiliki perilaku yang sama. Pelaku usaha tetap perlu memahami kebutuhan dan karakteristik target pasarnya.
Penelitian Arief Helmi, Yogi Suherman, dan Wa Ode Zusnita yang diterbitkan dalam jurnal Innovative Marketing pada 2025 mengkaji gaya belanja daring generasi muda di Indonesia. Penelitian tersebut melibatkan 410 responden Gen Z dan milenial di Bandung pada 2024.
Hasil penelitian mengidentifikasi beberapa pola belanja, mulai dari konsumen yang mencari produk terkini dengan harga hemat, konsumen yang mengutamakan kualitas atau merek premium, hingga konsumen yang cenderung melakukan pembelian impulsif.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa konsumen muda bukan kelompok yang sepenuhnya seragam. Ada yang sangat mempertimbangkan harga, ada yang mengutamakan kualitas, dan ada pula yang tertarik pada pengalaman berbelanja. Karena itu, strategi bisnis perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, bukan sekadar berdasarkan label generasi.
Bukan Sekadar Murah, tetapi Juga Meyakinkan
Dalam praktiknya, konsumen digital dapat memeriksa ulasan, membandingkan harga, dan mencari informasi produk sebelum membeli. Karena itu, transparansi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.
Survei Jakpat mengenai tren belanja daring pada paruh kedua 2024, yang dipublikasikan pada Februari 2025, melibatkan 2.474 responden dari kalangan Gen Z, milenial, dan Gen X. Sebanyak 91 persen responden menyatakan melakukan transaksi daring selama periode tersebut.
Data ini memperkuat gambaran bahwa transaksi digital telah menjadi bagian penting dari kebiasaan konsumen. Meski demikian, angka tersebut merupakan temuan terhadap seluruh responden survei, bukan angka khusus Gen Z.
Bagi pelaku usaha, kondisi ini menjadi pengingat bahwa keputusan pembelian tidak selalu ditentukan oleh harga termurah. Kejelasan spesifikasi, foto produk yang sesuai kenyataan, informasi biaya pengiriman, ketentuan pengembalian, dan kepastian waktu pengiriman juga dapat membantu konsumen mengambil keputusan.
Di sisi lain, kecepatan pelayanan tidak boleh mengorbankan ketepatan informasi. Menjanjikan pengiriman terlalu cepat atau memberikan keterangan yang tidak sesuai kenyataan justru berisiko merusak reputasi bisnis.
Media Sosial Mengubah Cara Bisnis Menjangkau Pembeli
Persaingan bisnis digital juga semakin dipengaruhi oleh cara produk diperkenalkan kepada konsumen. Laporan e-Conomy SEA 2024 menyoroti perkembangan video commerce sebagai salah satu dinamika penting dalam perdagangan elektronik Indonesia.
Melalui video pendek, siaran langsung, dan demonstrasi produk, penjual dapat memberikan gambaran yang lebih nyata kepada calon pembeli. Konsumen juga memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan memperoleh informasi sebelum bertransaksi.
Namun, kehadiran di media sosial saja tidak menjamin penjualan. Konten yang menarik perlu diimbangi dengan pelayanan yang konsisten, informasi yang akurat, serta kemampuan memenuhi pesanan sesuai kesepakatan.
Pelaku usaha kecil dan menengah dapat memulai dari langkah sederhana, seperti memperbarui katalog produk, mencantumkan harga secara jelas, membalas pesan pelanggan dengan cepat dan wajar, serta menyampaikan estimasi pengiriman yang realistis.
Bisnis Harus Beradaptasi Tanpa Kehilangan Kepercayaan
Menghadapi konsumen muda tidak berarti seluruh proses bisnis harus berlangsung secara instan. Ada transaksi yang memang memerlukan waktu, terutama untuk produk khusus, barang pesanan, atau layanan bernilai tinggi.
Hal terpenting adalah memastikan pelanggan memahami prosesnya. Jika produk membutuhkan waktu produksi 30–40 hari, misalnya, penjual perlu menjelaskan tahapan pengerjaan, perkiraan penyelesaian, dan mekanisme pembaruan informasi kepada pembeli.
Dengan cara tersebut, transparansi bukan sekadar mencantumkan harga, melainkan memberikan kepastian mengenai apa yang dibeli, bagaimana prosesnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan apa yang akan dilakukan jika terjadi kendala.
Pada akhirnya, Gen Z bukan sekadar generasi yang menginginkan segala sesuatu serba cepat. Mereka merupakan bagian dari perubahan perilaku konsumen di tengah perkembangan teknologi digital. Bagi pelaku usaha, tantangannya bukan hanya menarik perhatian calon pembeli, tetapi juga membangun pengalaman transaksi yang dapat dipercaya.
Di era digital, bisnis mungkin kalah bersaing karena harga atau produk. Namun, pelayanan yang buruk dan informasi yang tidak transparan juga dapat menjadi alasan pelanggan memilih tempat lain.
SUMBER DAN REFERENSI
Google, Temasek, dan Bain & Company. e-Conomy SEA 2024. Laporan ekonomi digital Asia Tenggara.
https://blog.google/intl/id-id/e-conomy-sea-2024-perekonomian-digital-indonesia-akan-mencapai-gmv-90-miliar-pada-tahun-2024/Helmi, A., Suherman, Y., dan Zusnita, W. O. (2025). Online Shopping Styles of Millennials and Generation Z: Evidence from Indonesia. Innovative Marketing, 21(2), 134–145.
https://doi.org/10.21511/im.21(2).2025.11Jakpat. (19 Februari 2025). 2024 Online Shopping Trends: 62% of Gen Z Shop via Live Shopping.
https://insight.jakpat.net/2024-online-shopping-trends-62-of-gen-z-shop-via-live-shopping/Google Indonesia. (13 November 2024). Persaingan E-commerce Bertambah Ketat di Indonesia dengan Hadirnya Video Commerce.
https://blog.google/intl/id-id/e-conomy-sea-2024-persaingan-e-commerce-bertambah-ketat-di-indonesia-dengan-hadirnya-video-commerce/
